UANG JAJAN



“Mam, boleh nggak aku minta uang jajan Rp. 5000,- aja, hari Selasa saja, hari lain nggak usah,” pinta anakku hati-hati dengan mata bulatnya. Pandangannya penuh harap kepadaku di dapur saat dia membantuku menggoreng telor ceplok kesukaannya.
“Oh, kenapa pilih hari Selasa? “ tanyaku ingin tahu.
“Karena hari Selasa pulangnya siang, Mam, aku pengen beli minum, “ jawabnya jujur. “Hari lain nggak usah dikasih uang jajan, hari Selasa saja,” rajuknya lagi penuh harap.
Aku tak langsung menyiakan. Aku berpikir sejenak jawaban terbaik apa yang harus aku sampaikan padanya. Memang semenjak Ansel, anakku yang pertama naik ke kelas 3 aku mulai berpikir hendak memberinya uang jajan. Tapi aku ingn menyampaikannya dengan baik. Suamiku sempat berpikir hal yang sama, semakin cepat dia mendapat uang jajan semakin cepat dia dapat mengelola keuangan. Begitu pendapat suamiku.
Aku pun sependapat.
Nak, mungkin ini saat yang tepat kamu mendapat uang jajan, kataku dalam hati.
Keesokan harinya aku memberikan uang  Rp. 5000,-. Uang itu diterimanya dengan wajah berseri dan disimpan ke dalam dompetnya bergambar Superman yang kubelikan saat dia berulang tahun yang ke 7.
Beberapa hari kemudian sebelum hari Selasa aku bertanya, apakah uangnya masih utuh? dengan yakin dia menjawab uangnya masih ada di dompet. “Aku akan  pakai hari Selasa, Mam,” jawabnya yakin dengan mata bulat bersinar. Kembali aku berpesan,  “Sisanya ditabung  ya, Nak” :)

(Maria Fenny)

Komentar